Silahkan Dicicipi Gulai Keladi

Malam Senin, 23 Desember, bulan sedang terang, nagari Tak Baru memanggilku datang, Isa. Aku ceritakan kepadamu biar jelas mana siang terang, lama yang gelap. Biar putus mana yang urat, biar jelas batas perhentian.

“Aku bakal datang di antara dua malam, di Kamis malam, atau di senin malam. Menanam hantaran. Sebelum itu kita lanjutkan adalah baik, Malin mencicipi hidangan.”

Aku masih mengenakan kain sarung putih, celana krem, peci hitam, jaket hitam, koko putih panjang lengan. Kali ini bersama Da Kecin, Da Pe Em. Perjalanan ini harus ditempuh. Berjalan memang harus dengan waktunya. Sekarang tiba waktu untuk datang pintu Pak Lintang.

Sudah tentu seperti biasa bakal menyimak baik-baik. Sudah tentu pula aku menikmati secangkir kopi yang dihidangkan tuan rumah. Dan aku hanya bakal menyampaikan kepadamu Isa, tentang selera makanku yang terbuka lebar.

“Makanlah. Jangan basa-basi. Yang terhidang untuk dicicipi,” suara yang halus dan lembut Pak Lintang menyilahkan aku bersama tamu yang datang untuk makan.

Ah, Isa, pucuk dicinta bulan pun tiba. Perut sedang lapar-laparnya yang terhidang menggugah selera. Tujuan sosialisasi pemenangan anggota dewan, yang menanti gulai yang membuat aku tidak bisa menolak makan malam.

“Gulai batang kapacuah. Di rumah-rumah makan tidak bisa menemukan yang seperti ini. Ini betul-betul menggugah selera. Bakal dibikin bertambuh makan aku dibuatnya.” Sontak saja keluar kalimat-kalimat yang membuat canda tawa itu. Kenapa tidak. Aku bertemu dengan gulai yang begitu enak, dicampur pula dengan ayam.

Aku memang suka makanan-makanan lidah kampung, Isa. Aku suka pucuk markisa mentah yang sedang pahit-pahitnya. Aku suka terung pahit yang batangnya berduri-duri halus. Dan sekarang bertemu pula dengan gulai batang kapacuah (keladi). Lepas betul seleraku, Isa.

Alizar Tanjung , Tak Baru 23 Desember 2018

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *