RAHASIA DARI DALAM

Malam Selasa, 24 Desember saat langit Muaro Aia masih belum ditumbuhi bintang-bintang. Dan udara tidak terlalu dingin.

“Nasihat Uda kepada Malin. Tahajud, Malin. Aku sampaikan apa yang sudah aku lakukan. Percayalah Malin.” Aku dengarkan baik-baik apa yang beliau sampaikan Isa. Tentu Isa engkau tahu siapa yang aku maksud dengan ‘beliau’. An Ndekoh, saudara kandung Jo Ambun.

“Baik, Uda. Aku dengarkan baik-baik nasihat Uda. Sesuai pemikiran Uda dengan pemikiran saya.” Sudah tentu aku dengarkan baik-baik Isa. Pertama, sebagai orang yang datang bertamu, sudah tentu aku datang meminta nasihat. Kedua sebagai adik, sudah tentu aku menurut kepada yang lebih tua. Apalagi yang disampaikan itu sesuai pula dengan apa dapatkan di rantau-rantau dekat, Isa.

“Hidup kita enggak hanya hidup dengan diri sendiri. Hidup kita hidup berTuhan.” Aku sambung kata-kata Isa. Engkau cukup mendengarkan saja baik-baik. Biar giliran aku yang berceloteh panjang kepadamu.

Aku seperti biasa memakai celana krem. Baju kemeje putih. Jaket Hitam. Kain Sarung Putih. Peci hitam. Sudah menjadi kebiasaan aku selama sosialisasi memakai serba putih. Hatiku yang mengatakan pakaian putih membuat aku lebih tenang saja. Malam ini aku pula pakain serba putih.

“Kalau perlu mandi sebelum Tahajud. Kita menghadap dalam keadaan suci. Manalah yang dikatakan serba suci, benar-benar bersih.” Aku dengarkan baik-baik. Berhadapan-hadapan posisi kami, Isa. Sedangkan di sebelahku seperti biasa ada Da Pe Em, di sebelahnya ada pula Malin Eri. Masih saudara olehku.

“Tentu kalau soal ini Malin juga lebih paham dari aku.” Aku dengarkan baik-baik. Maafkan kalau aku ulang-ulang penjelasan yang sama. Sebab mendengarkan baik-baik berbeda dengan sekedar mendengarkan baik-baik. Mendengarkan baik-baik bersama beliau, mendengarkan dengan paham dan takzim.

“Iya Uda. Pinta dari itu Uda. Sebab niat kita untuk nagari. Sudah dibangun pula niat yang lurus. Sudah tentu pula niat dilanjutkan dengan kerja keras. Ditambah pula dengan doa. Sebab itulah Uda meminta pula aku kepada yang hadir. Sudah termasuk pula Uda di dalamnya. Uda, Uda, Uda, Uni, bantu pula dengan dalam setiap tahajud. Hubungan dengan manusia saja tidak cukup, sudah sejalan pula dengan Allah.” Banyak betul pintaku Isa.

Masa-masa pencalonan menjadi Anggota Dewan sudah tentu masa-masa perjuangan. Dibutuhkan tangan Allah untuk pemenangan ini. Dibutuhkan pula tangan manusia dalam setiap usaha. Yaps, Isa, begitulah Isa. Setiap perjuangan membutuhkan kerjasama bumi dan langit.

Alizar Tanjung , Danau Kembar, 24 Desember 2018

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *