Bakumpuah-kumpuah Gadang

Mimo. Sedang apa kamu sore-sore manja ini, Mimo. Sekarang Magrib sudah masuk dan aku sedang mengetik di depan laptop dengan penerangan lampu seadanya. Maksudku lebih dari apa adanya. Di luar ayam sedang berkotek-kotek kecil mencari kandang. Suara azan dari jauh sudah terdengar.

Kamu mungkin sedang tidur enak seperti biasanya dengan manjanya dengan ongkang-ongkang empat kakimu. Terus pura-pura membuka mata karena ada sesuatu yang menganggu kamu di dapur. Atau barangkali kamu sedang mengejar-ngejar ranting yang dibawa lari sana-sini sepanjang ruang tamu lantai satu.

Apa yang mengusik aku? Kamu bertanya-tanya, Mimo. Tepatnya aku yang bertanya-tanya sama diriku sendiri hingga aku harus memanggilmu ke dalam tulisanku yang langsung diketip di blog ini. Aku diusik bahagia oleh kebiasaan-kebiasaan orang-orang sini Mimo. Maksudku orang-orang Kenagarian Kampung Batu Dalam.

Salah satu aku kunjungi pada sore ini. Lokasi kecilnya Buah Kajai. Itu nama dusunnya, Mimo. Orang-orang pergi memakan kolak. Bersama-sama satu kampung. Hampir-hampir rata satu kampung mendapatkan undangan sebatang rokok atau satu gula-gula.

“Siapa yang bakal nikah?” kataku kepada saudara laki-laki kecilku.

“Kumpuah-kumpuah (walimahan) orang mau mendirikan rumah,” ujarnya. Rupanya orang bakal mendirikan rumah, bukan orang yang bakal pergi berumah ke rumah orang. Begitulah Mimo, di sini mau mendirikan rumah saja seperti orang mau walimahan besar-besaran. Lain adat lain pula kebiasaannya.

Kemanakan bertemu dengan mamak, orang sumando bertemu dengan orang sumando, etek bertemu dengan etek. Anak bertemu dengan bapak. Para ibu membawa sesuatu yang hendak dibagikan kepada orang yang bakal mendiri rumah-rumah. Para bapak datang makan kolak kadang lontong ke tempat orang yang mendirikan rumah. Sesudahnya meninggal uang sebagai bentuk ikut menyumbang untuk orang yang bakal mendiri rumah.

Asing rasanya kalau orang yang bakal mendirikan rumah tidak mengundang orang sekampung untuk memberitahukan bahwa ia bakal mendirikan rumah. Sangat-sangat asing Mimo. Sebab itu jikalau datang bulan Rajab ramilah kampung dengan orang walimahan untuk pernikahan ataupun untuk mendirikan rumah, Mimo.

Sabtu, 20 Maret 2019

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *