Offline Fullday

“Kapan baiknya Mr. Anton?”

“Diserahkan kepada Pak Ali.”

“Nantik orang datang, barang-barang kita enggak lengkap,” ujar Naomi.

“Mengenai permintaan barang dari konsumen bisa kita jadikan sebagai analisa kita. Saat konsumen meminta barang yang tidak ada stok sama kita, bisa kita catat. Itu menjadi bagian dari analisa untuk memenuhi target konsumen ke depannya.” Mr. Anton menerangkan.

“Baiknya kita lengkapi semua barang stok untuk toko. Biar pas konsumen kita datang barangnya ada dan konsumen tidak kecewa.”

“Kalau kita menunggu semua barang tersedia, berkemungkinan bakal semakin lama tertunda buka toko kita.”

Perdebatan yang alot di akhir Maret 2019. Rencana membuka toko buku secara offline semenjak 2018 bakal ada kemungkinan besar bakal tertunda lagi. Kalau itu terjadi lagi, bakal kembali terjadi perubahan rencana jangka pendek.

Naomi, istri saya ingin toko dibuka saat persediaan buku dan alat tulis tersedia secara lengkap. Dalam arti kata harus ada buku dan alat tulis, meski itu serba sedikit. Saya di situ sisi ingin segera membuka toko offline. Mr. Anton berada pada posisi di mana apa yang diputuskan owner, Mr. Anton bakal eksekusi. Ownernya siapa lagi kalau bukan Alizar Tanjung dan Naomi Martha yang berbeda pendapat tentang kapan dan bagaimana tokobuku offline dibuka secara fullday kepada konsumen.

Diskusi hangat itu, di tengah Rabu yang panas, 27 Maret 2019, belum menghasilkan keputusan pada tanggal berapa tepatnya toko offline bakal dibuka. Saya kembali harus garut-garut kepala dan menahan keinginan untuk segera membuka Linibuku secara offline. Keputusan sementara kita lihat kondisi sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Pada rencana di awal Maret sudah mulai mengerucut mengenai rencana bakal membuka Linibuku secara offline bertepatan di tanggal 1 April, jatuhnya pada hari Senin. Sekarang rencana itu benar-benar bakal tertunda sementara waktu. Menyedihkan waktunya belum ditentukan. Ada kemungkinan tertunda satu minggu. Ada kemungkinan tertunda satu bulan. Berat untuk menerima kenyataan yang bakal bisa saja terjadi.

Sepanjang Kamis, Jumat, Sabtu, siang dan malam saya kembali membawa ingatan saya jauh ke belakang. Sampai pada satu titik saya disadarkan pada sebuah kenyataan. Kenyataan itu di mana pikiran saya mengkondisikan saya untuk terus mengulur-ulur waktu mengenai kapan Linibuku bakal dibuka secara offline. Ada semacam kekhawatiran yang berlebihan dalam diri saya bahwa lokasi tempat di mana Linibuku sekarang tidak memungkinan untuk dibuka menjadi toko. Pikiran ini yang menumpuk dalam kepala saya.

Ingatan dan pikiran tentang lokasi yang tidak menguntungkan ini benar-benar membuat pikiran bawah sadar saya bekerja. “Kalau Linibuku dibuka secara offline siapa yang bakal datang? Siapa yang bakal belanja? Adakah orang bakal tahu lokasinya?” Saya menyadari di titik ini, pikiran bahwa sadar saya sudah menghanyutkan saya dengan sedikit rasa ketakutan yang di luar batas.

“Hancurkan pikiran ini.” Tepatnya saya menyatakan kalimat yang hampir senada dalam kepala saya. Sabtu saya konfirmasi kembali kepada Mr. Anton.

“Mr. Anton, Senin, tepatnya tanggal 1 April 2019 kita Linibuku secara fullday,” ujarku ke Mr. Anton via telpon.

“Siap Pak Ali.”

“Sips Pak Anton.”

Naomi, Sang Istri, saya yakinkan bahwa apapun kondisinya harus kita buka di hari Senin. Segala kekurangan isi toko seiring waktu kita lengkapi. Sudah tidak ada waktu untuk menunda-nunda rencana besar ini. Ini bukan persoalan kapan dibuka tokobuku secara fullday. Melainkan ini persoalan sebuah keputusan harus dieksekusi dengan cepat dan komitmen. Saya mengambil keputusan itu dan berkomitmen secara utuh bersama teamwork bahwa Linibuku harus diputuskan dibuka secara Fullday di hari Senin. Keputusan sudah diambil. Eksekusi harus dilakukan.

Saat eksekusi ini dilaksanakan di hari Seninnya, saya masih berada di luar Kota. Tepatnya di Kenagarian Kampung Batu Dalam, Kec. Danau Kembar, Kab. Solok. Dan hari itu secara resmi Linibuku dibuka secara Oflline mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Konsumen pertama kita di hari itu berjumlah 3 orang. Pada hari itu juga transaksi pertama pecah. Pada hari kedua konsumen kita naik menjadi 6 orang. Lagi-lagi transaksi kembali pecah.

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *