KAPAL UDARA PADANG – BATAM

Hari ini setelah 1 tahun 6 bulan tidak menaiki kapal udara, saya kembali menaiki Kapal Udara. Waktu kecil saya menyebutnya Kapatabang. Sahabatnya Fefri Rusji, Satria Haris, Boy Candra, mungkin juga menyebutnya Kapatabang di masa kanak-kanak nostalgia.
Terus terang setelah lama tidak menaiki kapal udara, saya sedikit canggung. Ada kekhawatiran dan kegetiran saat kapal udara bergunjang naik turun, kiri kanan, saat menembus kabut tebal sepanjang perjalanan Padang-Batam.


“Semua bakal baik-baik saja.” Saya menenangkan diri saya sendiri. Istri saya bilang kenapa tangan saya sangat dingin. Saya menahan gugup dalam hati. Sebagai suami yang baik untuk istri saya Ny Alizar Tanjung, sudah tentu menyembunyikan kegugupan adalah bagian dari keahlian yang harus terus saya pelajari.


Saya rindu menaiki Kapal Udara. Jauh-jauh hari Istri saya bilang September kita bakal ke Tanjung Pinang. Satu-satunya jalur Padang ke Tanjung Pinang paling cepat lewat Kapal Udara adalah jalur Padang-Batam. Kapal udara Padang langsung Tanjung Pinang belum ada.
Ada yang sangat menarik sekali untuk rute perjalanan ini. Perjalanan ini jauh hari sudah diniatkan. Dekat-dekat hari istri saya dan saya sepakat dulu diundur keberangkatan. Rupanya takdir berkata lain. Kondisi mertua membuat kami harus mengambil keputusan untuk segera ke Pinang. Begitu orang menyebut kota ini.


Dan hal yang paling menarik adalah niat yang dipasang jauh-jauh hari mengundang berbagai cara untuk mewujudkan. Ini kejadian yang sekian kali. Entahlah kawan Denni Meilizon Nasution setuju atau tidak dengan perkataan saya _ sekarang teman saya ini sedang di Jakarta_ atau apakah kawan saya Mahatma Muhammad bakal membaca cuitan saya ini _ sekarang dia sedang menjalani hari-hari yang bakal menjadi sejarah dalam hidupnya di Banda Naira _ Kabarnya dia sedang menjalani rutinitas sebagai teaterawan di sana bersama bunga-bunga Banda Naira yang tentu saja memiliki pesona yang tidak bakal dimili oleh para bunga diluar Banda Naira. Aku doakan engkau tawadu’ wahai kawanku. Seelok-eloknya bunga Banda Naira, bunga di kampung halaman adalah lautan yang diisi oleh ikan terunik dipalung terdalam. Spesial dan autentuk_.


ALIZAR TANJUNG

04-05/09/2019

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *