Padang Bengkok

“Kenapa enggak Padang Bengkok saja?”

“Saya kurang setuju.”

“Kenapa enggak setuju. Nama Padang bengkok itu menarik. Sungguh. Benar-benar menarik. Mudah diingat. Sudah terkenal pula.”

“Makan Padang Bengkok itu negatif. Kita sudah capek-capek menghapus stigma itu. Maksudnya anggapan orang luar terhadap orang Minang. Padang Bengkok itu sebutan untuk orang-orang dari tanah seberang terhadap para perantau Minang.”

“Apa masalahnya.”

“Masalahnya Padang Bengkok itu identik dengan pangicuah (pembohon), pancaliah (akal bulus), pengkhianat. Ah, sudah tidak dapat disebut lagi. Semua yang buruk-buruk sudah melekat kepada Padang Bengkok.”

“Aku lebih setuju mengatakan, Padang Bengkok, sebagai tanda orang Minang tidak sembarang Orang. Di mana langit dijujung di sana bumi diinjak. Buat merantai tidak perlu uang sekantong plastik besar. Hanya perlu kain sarung dengan kopiah di kepala, baju dan celana yang melekat di badan, beserta dengan sepasang sendal sallow.”

“Aku masih belum setuju.”

“Aku setuju. Ha ha ha. Padang Bengkok itu menarik. Kalau nama festifal kita Padang Bengkok Festival, bakal heboh jagad raya. Seluruh orang bakal berkoar-koar menuduh dan membela.”

“Saya khawatir stigma itu bakal semakin negatif.”

“Saya percaya stigma yang negatif itu bisa dibalik menjadi stigma positif. Haqqul yakin saya. Kita terlalu cemas disebut Padang Bengkok.”

“Bukan cemas!”

“Terus terlalu takut.”

“Jangan meremehkan aku.”

“Kalaulah Padang Bengkok itu nyata jadi sebuah nama sebuah perhelatan acara besar. Sudah barang tentu kita membalik keadaan. Kita lagi mengatakan kepada dunia, sekali lagi lihatlah orang Minang, sungguh hebat-hebat benar dia.”

Padang, 30/10/2019

Foto di atas diambil dari salah satu Foto sesi blogger talk di Padang.

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *