Saya Capek Bertengkar Terus

“Hempaskan saja semuanya. Jika itu maumu. Kalau perlu bakar sekalian. Biar habis segala kenangan. Biar hangus segala perasaan baik. Tak perlu apa pun lagi yang diingat dalam hubungan ini. Cukup sampai di sini.”

Natasya merangkul dua lutuknya. Menangkupkan kepala di antara dua lutup itu. Dia sungguh tidak ingin melihat seisi kamar. Punggungnya terasa sakit. Sudah cukup main tangan yang dia rasakan dari Marvel.

“Diam. Aku tidak butuh tangismu. Tangismu itu bulsit. Jangan kau pikir dengan menangis aku bakal berbaik hati dengan kamu yang mengkhinati aku untuk yang kesekian kali.”

Burrrr. Burrr. Burrr. Kaca jendela kamar berhamburan dan menghempas lapangan basket yang ada di bawahnya. Sekarang kursi yang melayang menembus jendela. Selanjut piring, gelas, sepatu, celana dalam, BH, wig, tas, baju.

“Puas kau sekarang.” Natasya berhenti menangis. Dia berdiri dengan tiba-tiba menantang, Marvel, tepat di kening lebar Marvel. Marvel bergidik juga dia menarik diri selangkah ke dinding, sebelum siap melayangkan satu tamparan yang membuat darah menyembur dari Hidung Natasya.

“Kamu pikir kamu siapa mempunyai hak barkacak pinggang di depanku. Perempuan sundal tidak tahu diuntung.” Satu tendangan sedang di arahkan ke kepala Natasya. Natasya buru-buru menarik diri ke sudut dipan. Tendangan itu hanya menyapu udara kamar. Marvel kesal. Dia menjambak rambut Natasya. Sekarang perempuan itu benar-benar berada dalam kesakitan yang nyata. Dia berusaha menarik diri dan memukul-mukul wajah Marvel. Marvel tetap saja tidak bergeming. Dia hempaskan Natasya ke atas kasur.

“Kenapa kau begitu jahat kepadaku?”

“Kau tanyakan kepada dirimu sendiri. Kenapa aku harus memergokimu melakukan perbuatan, ah, anjing…. Jangan kau tanya laki aku.”

“Hanya kau saja yang boleh melakukan. Kau pikir aku tidak tahu perempuan mana yang kau bawa pulang lewat tengah malam dan tidak keluar sampai pagi dari hotel yang sama dari pekan ke pekan.”

Kemudian ruangan itu menjadi hening. Sungguh sama sekali tidak ada suara. Hanya suara di luar yang sedang ribut-ribut. Melihat ke lantai dua seperti melihat tali layang-layang putus.

Padang, 30/10/2019

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *