PEREMPUAN BOKAL BERAMBUT PANJANG

“Rambut panjang yang diikat itu sama sekali tidak mengganggu totalitas pertunjukan,” ujar Halvika Padma yang sedang duduk di sisi kanan saya di baris kedua kursi Ruang Teater Tertutup Mursal Esten Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, saat pertunjukan Bokal sedang berlangsung. “Tentu,” ujar saya, Alizar Tanjung, gaya rambut itu bisa saja ada pada setiap kondisi waktu, waktu lampau maupun sekarang. Hanya saja gaya rambut mohawk yang sedikit menggangu saya, mengganggu totalitas panggung, ujar saya. Mungkin bisa dibotakkan saja kepalanya, timpal Halvika. Barangkali kalau tidak bisa dibotakkan, bisa juga pakai wig untuk totalitas, ujar saya.

“Enak dipandang,” ujar Halvika. Ah, sial, saya baru nyadar, Halvika rupanya bukan sedang membicarakan panggung. Halvika sedang membicarakan keelokan hasil rahim Kampar. Sungguh itu benar-benar memikat. “Saya setuju rambut panjang itu sama sekali tidak mengganggu totalitas panggung,” ujar saya sembari senyum jenaka dengan hati yang lepas kepada Halvika. Tentu saja senyuman itu tidak bakal terlihat di ruang gelap pertunjukan.

Ruang Mursal Esten memang didesain untuk sebuah ruangan pertunjukan teater. Orang-orang tentu saja menonton dengan takzim dan sebagian pura-pura takzim sembari bermain telpon genggam dengan cahaya layar yang benar-benar mengganggu konsenstrasi saya dan mungkin juga mengganggu konsentrasi orang-orang yang benar serius untuk menonton pertunjukan. Ah, sudahlah, biar saja, saya tidak ingin bahas bagian ini.

Saya dan Halvika mengambil posisi duduk di tengah. Dari posisi duduk kita, panggung diawasi mata saya dengan amat baik. Dari dalam kegelepan dari sisi kiri panggung, muncul seorang laki-laki sembari berdendang melayu kampar. Dendang itu memanggil-manggil, magis, meninabobokan, berkasih-sayang, diikuti pituah-pituah adat. Dari dalam kegelapan dari sisi kanan panggung muncul seorang lain dengan rambut mohawk, bersuling dengan sampelong, nada itu berkabar. Dalam. Sungguh dalam. Gerakan mereka pelan, berirama, simbolik. Pertunjukan tari besukan Koreagrafer Wan Harun Ismail dimulai. Kemudian muncul tiga orang penari berbaju hijau tua dengan gerakan silat. Dendang terus berkumandang.

Pertunjukan ini diberi judul Bokal (dialek kampar), bermakna bekal. “Bokal, bekal hidup,” ujar Halvika Padma. Saya sampaikan kepada Halvika, saat menonton bagian awal pertunjukan Bokal saya seperti sedang menonton diri saya sendiri sebagai orang MInang. Maksudnya saya sedang menonton minangkabau versi kampar. Tentu hal ini tidak asing, menurut alur pikiran Halvika. Pada awal pertunjukan, nasihat-nasihat dialek kampar bermunculan, di antara dialek itu, “Godang baguno yo nak dek uang bonyak”, “elokkan puangai yo nak”, “elokkan laku, nak. buliah uang yo nak sayang di awak.” Petatah-petitih juga bermuncul, di antaranya, “duduak samo rondah. Togak samo tinggi.” Nasihat dan petatah-petitih ini sangat lazim dalam adat di Minangkabau. Selalu dipakai dalam pitaruih orang tua kepada anak, mamak kepada kemenakan. Sedangkan petatah-petitih sudah aktifitas sehari-hari dalam pidato adat. Minangkabau sebagai sebuah identitas melekat dalam pertunjukan Bokal. Setidaknya saya menangkapnya demikian. Sebab Minangkabau dalam sejarah memang membentang luas sebelum pulau ini diberi nama Sumatra dan daerahnya dibagi-bagi dan diberi nama atas keinginan kolonial. Bagian ini menurut saya sangat menarik.

Saya berbisik-bisik dengan Halvika, “rugi bagi yang tidak menonton pertunjukan ini.” Halvika dan saya sama-sama mengutarakan kalimat yang sama dengan jarak spasi waktu yang berbeda. Saya menikmati pertunjukan ini dari awal, kecuali pada bagian pengulangan nasihat kepada anak yang terasa sedikit melelahkan. Sebab mengulang pola yang sama lebih dari tiga kali.

Pertunjukan ini tampak disiapkan dengan sangat apik. Gerakan para penari diikuti nada dan irama yang benar-benar seimbang. Saya ingin mengatakan lintasan pikiran saya saat menonton, seperti ada permainan ruh untuk menyatukan hati, jiwa, dan pikiran penari. Sebab benar-benar dilakukan dengan sangat berirama. Pikiran itu tentu bukan karena saya ingin berlebihan melihat para penari, tetapi karena begitu tenangnya angin berhembus dalam setiap gerakan. Mengenai kualitas pertunjukan saya dan Halvika hampir sama-sama memiliki kesepakatan, kualitas pertunjukan ini bagus.

Pertunjukan ini seperti hendak menyampaikan wejangan secara halus kepada penonton. Adat kita memberikan bekal untuk perjalanan hidup yang panjang. Rantau sati bertuah! Menghadang rantau yang sati bertuah mesti harus ada bekal. Bekal itu ditanamkan secara lisan dan simbolik. Secara lisan melalui dendang, pituah, petatah-petitih. Simbolik melalui ilmu beladiri silat perisai (asumsi saya). Rantau memang sati bertuah, tetapi kita yang datang dari wilayah adat juga sati bertuah. Tundukkan rantau. Ah, menarik benar kalau dikaji.

Puncak pertunjukan tari menurut Halvika berada pada pergolakan tiga penari dengan tiga baju putih. Baju ini disimbolkan sebagai kehidupan dunia nyata yang mesti dihadapi. Tiga penari yang sebelumnya berbaju hijau tua, sekarang harus dipaksa mengenakan baju putih. Pertarungan mengenakan baju putih sungguh sangat menguras keringat. Akhinya ketiga baju putih lengkap dengan celananya berhasil menguasai tubuh penari, tetapi tidak dengan pikiran, jiwa, dan hati. Tiga penari yang sudah berbaju putih tetap melakukan aktifitas fisik dan raga sebagaimana mereka berasal dari wilayah adat.

Secara keseluruhan pertunjukan cukup menyihir penonton. Dan saya tersihir oleh rambut panjang yang diikat itu. Ada desir dari setiap gerakan yang dibawakan penari yang satu ini. Ah, sudahlah. Pokoknya rancak.*

Alizar Tanjung, 20/11/2019


Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *