KADIN, SDM UNGGUL, INDONESIA PRODUKTIF: INDONESIA MENJELANG ESOK PAGI

Mimo, lama aku tidak ngobrol santai dengan kamu. Sebagai seekor kucing tentu bukan masalah bagi kamu. Kamu bisa saja tidur-tidur malas di ruang tamu kontrakan Rawasari, Cempaka Putih, sembari mendengarkan berita-berita politik, SDM, sosial, yang sangat harum dengan pertengkaran-pertengkaran yang penuh retorika. Mereka membicarakan tentang Indonesia di masa depan. Esok hari muncul berita di koran, seseorang diperkarakan secara hukum karena kalimat-kalimat kasarnya di acara debat televisi. Mimo, kamu bisa saja mengibas-ngibaskan ekormu dan menjilati bulu-bulumu yang abu-abu belang hitam itu bercampur putih, sembari mengatup-ngatupkan matamu, antara mendengar atau tidak dengan peristiwa keindonesiaan. Sedangkan aku ingin membicarakan sumber daya manusia Indonesia bersamamu, Mimo. KADIN salah satu yang memperjuangkan sumber daya manusia itu, Mimo.

Aku masih di sini Mimo, di Indonesia bagian Barat, tepatnya di Kota Padang, memikirkan dirimu, Mimo. Memikirkan tentang tujuan Kadin membangun Indonesia. Memikirkan betapa rindunya aku dengan seekor kucing betina muda yang sepanjang hari kerjaannya hanya tidur di ruang tamu dan pura-pura peduli ketika perutmu lagi lapar-laparnya Mimo. Sudah 1 tahun 8 bulan kita tidak bertemu. Tentu rasa rinduku menumpuk. Terutama kerinduan berbagi cerita tentang keindonesian dengan kamu. Kamulah pendengar setiaku yang tidak bakal membantah kebenaran yang aku utarakan, Mimo. Sebab kamu seekor kucing, kamu adalah pendengar yang baik, setidaknya berpura-pura menjadi pendengar yang baik, Mimo.

Tentu engkau tahu aku selalu saja risih dengan perkataan-perkataan umum para orang tua kita, “belajar yang rajin, sekolah tinggi-tinggi, cari pekerjaan dengan gaji yang tinggi.” Sungguh mimo, pikiran ini sudah lama mengganggu pikiranku. Sudah seperti duri dalam daging. Sudah biasa Mimo, aku mendengar kalimat, “belajar yang rajin, bercita-cita jadi guru, dokter, insinyur, polisi, tentara.” Sungguh banyak lagi impian-impian para orang tua yang dibebalkan ke dalam pikiran kita. Enggak ada yang salah dengan semua niat para orang tua. Sungguh enggak ada yang salah. Sebab memang sudah lama penghuni bangsa ini diajarkan untuk menjadi pekerja. Seolah kita hidup hanyalah untuk diri sendiri, yang penting sudut celana tajam, enggak masalah dompet tipis, yang penting jabatan terpandang. Padahal ada yang jauh lebih penting daripada itu, Mimo.

Ah, Mimo, apakah kau masih malas-malasan? Enggak apa-apa Mimo. Aku hanya ingin bercerita saja kepadamu, tanpa peduli engkau mendengarkan atau sama sekali menutup telinga. Sungguh belajar itu baik, nilai itu baik, pekerjaan itu baik, jabatan itu baik, jadi guru itu baik, jadi dokter itu baik, jadi bidan itu baik, jadi polisi itu baik, jadi tentara itu baik. Aku setuju denganmu. Hanya aku tidak setuju dengan doktrin. Hidup bukan sebatas makan minum. Hidup di bumi Indonesia mesti memiliki nilai dan tujuan keindonesiaan. Maaf, Mimo, kalau bahasaku sedikit semacam berfilsafat. Aku hanya ingin mengatakan apapun cita-cita yang ditawarkan para orang tua harus mendahulukan nilai dan tujuan.

2. Foto oleh Tomi Halnandes

Maksudku harus ada yang melakukan pergerakan yang berbeda, Mimo. Aku ingin mendengar harapan dari para orang tua, “anakku belajarlah yang rajin, buat tujuan dalam hidupmu, ciptakan sesuatu yang bakal membuka jalan hidupmu dan hidup orang banyak.” Aku ingin mendengar harapan-harapan para orang tua, “anakku lihat dunia luas yang ada di hadapanmu. Jadilah sesuatu di dunia yang luas ini. Ciptakan penemuan-penemuan baru untuk Indonesia. Ciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.” Sungguh Mimo, aku ingin mendengarkan harapan-harapan para orang tua,”anakku, aku ingin engkau jadi pengusaha besar. Hidup kita memang enggak berkecukupan. Pikiranmu bekerja tanpa batas. Engkau tidak kekurangan aset untuk melakukan hal-hal besar dalam hidupmu.” Kadin mengajak kita memikirkan Indonesia dengan pikiran membangun SDM Indonesia. Dan aku tetap saja bermimpi dari setiap pintu rumah muncul harapan-harapan para orang tua tentang bagaimana anak-anaknya membangun Indonesia. Tentu Mimo, bersama Kadin tentunya. Indonesia menyediakan wadah berupa HIPMI, KADIN Indonesia untuk orang-orang yang ingin membangun Indonesia dari pinggi, dari tengah, dari sudut mana pun.

Kita bangsa yang besar, Mimo. Kaya akan budaya dan alamnya. Beribu-ribu pulau memberikan ragam budaya. Kekayaan alam berlimpah dari Sabang sampai Merauke yang kata orang tidak bakal habis-habisnya. Timur dan barat terhubung dalam ruh pancasila. Enggak ada yang kurang budaya dan alam Indonesia kita, Mimo,

Mimo, kau sudah minum kopi, Mimo. Ada baiknya kau minum kopi sembari menemani aku memikirkan Indonesia hari esok. Setidaknya kopi dapat membuat matamu sedikit membelalak dari biasanya, Mimo. Kau bisa saja memesan kopi Gayo, Solok Rajo, Bengkulu, Banda Neira, Kintamani, Tanggamus, Toraja, Mandailing, Ijen, Sidikalang.

Ah Mimo, engkau lihatlah nasib kita.

Sabang sampai merauke membuktikan Indonesia kaya dengan pertanian, Mimo. Tetapi di situ pula batin kita sering dibuat menangis. Kita enggak kekurangan tomat. Kita enggak kekurangan cabai. Kita enggak kekurangan beras. Kita enggak kekurangan jagung. Kita enggak kekurangan kol. Kita enggak kekurangan kentang. Kita enggak kekurangan ubi. Kita enggak kekurangan wortel. Kita enggak kekurangan pala, cengkeh, teh, kopi, pala, melinjo. Kita enggak kekurangan brokoli. Hanya kita kekurangan SDM pengelolaannya, Mimo. Di situ terkadang aku merasa bersedih, maksudku bersedih sangat dan sangat. Harga selalu saja berada di bawah rata-rata, petani menjerit. Sebab sebagian besar hasil dari pertanian itu baru mampu dikonsumsi secara konensional. Kita masih memiliki keterbatasan untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi, Mimo. Keterbatasan itu lagi-lagi keterbatasan SDM bangsa ini.

3. Foto oleh Alizar Tanjung

Kita memiliki ribuan pulau. Setiap pulau hampir rata-rata dihunyi oleh penduduk Indonesia yang jumlahnya puluhan juta. Mirisnya kehidupan para penghuni pulau masih berada di garis menengah ke bawah secara pemenuhan kebutuhan hidup, Mimo. Padahal kita dikenal dengan kaya akan ikannya. Tetap saja kita seperti kekurangan gizi, seperti tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk berkunjung ke pulau-pulau kecil butuhan berminggu-minggu. Anggap semisal kunjungan ke Anambas, Kepulauran Riau, hanya ada kunjungan transportasi udara satu kali dalam seminggu. Banyak pulau-pulau kecil yang memang belum mampu dijangkau oleh udara. Bahkan transportasi lau juga sama sulitnya. Hal ini juga terjadi di Papua, pulau-pulau kecil di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera. Kenapa hal ini bisa terjadi, karena kekurangan SDM, Mimo. Kita kekurangan SDM di bidang industri pesawat terbang dan laut. Kita kekurangan SDM di bidang industri perikanan. Kita Kekurangan SDM di bidang pengolahan batubara, migas, bijibesi. SDM yang ada sekarang belum memadai untuk mengembangan kekayaan alam Indonesia yang luas ini.

Kita kekurangan SDM di bidang pengembangan teknologi informasi. Begitu banyak pulau-pulau yang belum mampu menikmati teknologi. Padahal di dunia era informasi, internet dan teknologi adalah kebutuhan utama. Hanya kota-kota besar yang mampu menikmatinya, sedangkan kota-kota kecil dan kabupaten-kabupaten masih jauh dari jangkauan teknologi informasi. Ini menunjukkan SDM kita masih belum cukup. Tentu tanggungjawab ini aku pikul, Mimo. Kamu juga, itu kalau kamu bersedia.

Aku membayangkan kamu, Mimo. sebagai pengusaha kopi yang menguasai dengan baik hulu dan hilir. Kamu menguasai produksi mentahnya. Kamu juga menguasai dengan baik pengolahannya menjadi sesuatu layak konsumsi di dunia international. Aku membayangkan kamu pengusaha properti, pengusaha tekstil, pengusaha makanan cepat saja, pengusaha minyak, pengusaha batubara, pengusaha di bidang teknologi informasi.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_2693-1024x575.jpg
4. Foto oleh Alizar Tanjung

Aku membayangkan orang-orang Indonesia sebagai pengusaha sukses di berbagai bidang. Kamu juga bisa jadi pengusaha, Mimo. Itu kalau kamu ada kemauan dan meninggalkan kemalasan yang selama ini kamu juga dan rawat baik-baik, Mimo. Aku membayangkan orang-orang Indonesia itu melahirkan jutaan pengusaha di berbagai bidang, bukan ratusan ribu, bukan ribuan, bukan ratusan, bukan pula puluhan, tetapi jutaan, Mimo. Kamu tentu bertanya-tanya kenapa harus begitu? Ya, Mimo, kenapa harus begitu, karena Indonesia hari ini membutuhkan sumber daya manusia yang jutaan untuk menjadikan Indonesia ini berdaya, produktif, mampu menghidupi dan berdiri di kakinya, sendiri mampu membantu negara lain yang belum mampu berdiri sendiri, mampu memenuhi kebutuhan negara-negara adidaya. Jawaban semua itu ada pada sumber daya manusia Indonesia, Mimo. Sumber daya manusia harus dibangun bersama KADIN Indonesia. Sumber daya manusia itu harus diciptakan dan diciptakan. Pahit dan getirnya harus ditelan untuk Indonesia sejahtera esok pagi, Mimo.

SDM yang berlimpah dari Indonesia bakal menjadikan Indonesia bermain di papan kelas atas di peta dunia International. Ini artinya bangsa yang Makmur, maju, sejahtera. Sekarang aku cukupkan curhat isi pikiranku, Mimo. Silahkan lanjutkan istirahatmu. Aku bakal melanjutkan pikiranku tentang Indonesia. Esok pagi matahari terbit bersama KADIN Indonesia di bumi Indonesia.*

Padang, Desember 2019

Tulisan adalah original karya Alizar Tanjung. Foto 1,3,4 Original karya Alizar Tanjung. Foto 2 jepretan dari Tomi Halnandes F., sahabat Alizar Tanjung

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *