Pasar Lesu atau Tren Bergeser

Pagi, 6 September 2019, saya beranjak menuju Bandara International Minangkabau. Tujuan keberangkatan kali ini, Tanjung Pinang, Kota di mana mertua saya Martian Malik (almarhum) beserta adik ipar saya Novita Melinda Sari, menetap.

Saya selalu saja membayangkan apa yang menarik dengan Tanjung Pinang hari ini. Meski itu kota domisili keluarga istri saya, saya belum pernah benar-benar menetap lama dan mengikuti seluk-beluk Tanjung Pinang.

Benar saja kedatangan saya untuk kali ini ke Tanjung Pinang untuk waktu yang lama. Setidaknya saya menetap di Tanjung Pinang untuk 9 hari. Selama sembilan hari itu saya berkeliling dari sudut kota ke sudut kota, saya menjelajahi batu ke batu, dalam artian lain dari kilometer ke kilomoter, bahkan sampai menjelajahi Bintan, pusat Ibukota Provinsi Kepulauan Riau yang masih dipenuhi hutan lebat.

Mata saya tertuju kepada toko-toko yang berjejer di tepi jalan. Banyak toko yang tutup dan banyak toko yang memang belum disewa pedagang. Ingatan tentang toko-toko yang tutup membuat ingatan saya terhubung ke jaringan Eleven yang tutup di Indonesia. Gerai Hypermart juga tutup pada beberapa titik di Indonesia. CNBC Indonesia pada tanggal 26 Juni 2019 melaporkan penutupan 6 gerai Giant. Raksasa sekelas Giant harus menutup gerai mereka.

Matahari juga melakukan penutupan terhadap beberapa gerainya. Media Indonesia pada tanggal 15 November 2017 melaporkan Matahari kembali menutup dua gerai mereka Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai.

Penutupan Gerai dan toko-toko seperti pembenaran bahwa pasar sedang lesu. Tunggu dulu. Apakah kenyataan ini benar begitu adanya, atau ini sebuah peralihan pasar. Kita sekarang sama-sama mengetahui dengan baik, di tengah tutupnya gerai-gerai para pemain ritel skala besar, marketplace bermunculan, pesaing-pesaing tak terlihat bermunculan di sosial media seperti instagram, fanpage. Pebisnis-pebisnis kecil terus melejit omsetnya melalui toko-toko tak terlihat yang mereka buka di marketplace.

Sangat terburu-buru jika dikatakan bahwa pasar sedang lesu. Ada indikasi-indikasi lain yang bekerja di balik pasar yang seperti lesu. Ada pemain-pemain baru yang memiliki cara yang lebih mudah menjangkau para konsumen dengan biaya yang lebih irit.

Alizar Tanjung

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *