(pil)(kada)

Saya ingat dengan baik. Bahkan sangat baik bagaimana dahulu saya dibesarkan dalam kondisi penuh dengan kada. Orang menyebutnya dengan kudis. Sebujur kepala saya penuh dengan kudis. Bau. Bernanah. Berdarah. Ada banyak lempengan tukaknya. Rambut saya berbingkah-bingkah bercampur dengan kudis. Lengket, gatal, nyeri, itu keseharian saya.

Rupanya kata Abah dan Ibu saya jauh lebih sadis dari itu. Apa yang saya ingat hanya sebagian kecil saja dari penderitaan kada saya. Kata Abah saya Kada itu menimpa sekujur tubuh saya. Ujung kepala sampai ujung kaki. Kata Abah, aku seperti mayat hidup. Benar-benar seperti segan hidup. Tentu saya tidak ingat kejadian di bagian itu. Abah dan ibu saya yang sangat ingat.

“Ya Tuhan (Allah) kalau memang dia harus bersama kami, maka sembuhkan ya Allah. Kalau dia memang sudah tidak harus bersama kami, kami ikhlas ya Allah.” Abah saya sering mengingat-ingat doa ini ketika saya. “Saya rasa kamu benar-benar tidak bakal bersama kami lagi waktu itu. Sudah putus asa.” Rupanya Allah berkehendak lain. Allah sembuhkan saya.

Bagian saya mengigat kudis penuh di kepala saya, itu hanya detik-detik akhir menjelang penyembuhan. Pergi sekolah pakai topi, biar enggak begitu terlihat kada di kepala, tetapi panas matahari membuat bau kada lebih menyengat.

Berbagai obat sudah dilakukan mulai dari pil pemberian mantri, puskesmas, dokter, rupanya kada ini benar-benar sulit disembuhkan. Setiap hari ibu saya harus mencairkan pil dengan air panas, dioleskan ke setiap kada.

Sekarang setelah puluhan tahun berlalu rupanya pil dan kada ini masih saja mengganggu saya. Bahkan diadopsi oleh negara dengan menggabungkannya menjadi “pilkada”. Setidaknya sekali lima tahun bakal berlangsung yang namanya ‘pilkada”. Setiap kabupaten kota, provinsi, pusat, mengagung-agungkan “pilkada”.

Para pro dan kontrak saling adu jari di medsos, saling adu mulut saat kampanye, saling sikut sana-sini yang penting orang yang “diusung” mendapatkan kursi panas untuk lima tahun ke depan. Ah, ada juga yang saling adu kepala di media-media lokal untuk meningkatkan elektabilitas. Ada pula yang meminta ide kepala orang-orang tertentu untuk terus melonjakkan yang nama survei.

Kada itu menjalar dalam setiap kepala para pendukung dan kontra. Kada itu menjalar dalam setiap kepala yang katanya “pemikir” dan yang katanya “intelektualitas”. Saya pikir kada yang saya alami hanya bakal sebatas kulit luar saja. Rupanya kada ini menjalar ke hati, menjalar ke jantung, menjalar ke liver. Hati menjadi kebas. Jantung jadi berdetak enggak karuan. Kalau yang diusung belum menang, maka jantung berdebar-debar mencari segala cara biar bagaimana menang.

Bagaimana dengan hati nurani? Ah, kada itu kudis. Bagaimana mungkin kudis bakal menyehatkan hati nurani. Hati nurani bakal jadi kudis juga. Kalau sudah jadi kudis dia nanahan, bau, berdarah, lama-lama jadi belatung. Terus belatung berambah setiap kepala seperti virus yang berpindah-pindah dalam sekejap mata. Hal penting menang, memenangkan pil dan kada. Tentu biar kekuasaan ini dipegang di kepalan tangan. Persoalan digunakan untuk apa, itu urusan nanti. Urusan sekarang urusan menang dulu.

ALIZAR TANJUNG

Published by Alizar Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *